Home
Main Menu
Home
Berita
Cari
Publikasi
Opini
Agenda Kegiatan
Info Pasar
Kontak Kami
Tentang DKP Sulteng
Sejarah
Visi Misi
Struktur
Tugas dan Fungsi
S e k r e t a r i a t
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang Perikanan Budidaya
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang Perikanan Tangkap
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang Kelautan
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang P 2 H P
T u p o k s i
B e r i t a
UPTD LPPMHP
T u p o k s i
B e r i t a
UPTD Perbenihan Perikanan
T u p o k s i
B e r i t a
UPTD Pelabuhan Perikanan
T u p o k s i
B e r i t a
DIRJEN PERIKANAN TANGKAP: “HIJAUKAN WPP” PDF Cetak E-mail
Wednesday, 24 February 2010
 Demikian ungkap Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, DR. Ir. Dedy H. Sutisna pada paparannya di acara “Musrembang dan Sinkronisasi Perencanaan Program Pembangunan Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2010”. “Target saya, paling tidak ada 8 WPP yang bisa dihijaukan kembali, sedangkan 8 WPP tetap dipertahankan statusnya sebagai daerah hijau. Jika demikian, maka pada tahun 2014, setidaknya akan ada 16 WPP yang bestatus hijau, ungkap Mantan Direktur STP Jakarta itu.
“Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghijaukan WPP-WPP tersebut. Upaya pengingkatan stok populasi dapat dilakukan melalui “stock enhancement” melalui kegiatan “One Man One Thousand Fries”. Kegiatan tersebut adalah melakukan penebaran benih sebanyak mungkin ke daerah WPP yang dimaksud. Jika para nelayan atau pengusaha yang bergerak di bidang penangkapan ikan melakukan kegiatan ini, maka dapat dibayangkan berapa jumlah benih yang ditebar dilaut. “Nelayan dan Pengusaha juga harus mempunyai tanggungjawab dan komitmen moral yang tinggi terhadap kelestarian stok populasi, karena itu juga harus dapat dinikmati hingga anak cucu kita. Terserah, apakah mereka mau menebar jenis pelagis besar, kecil, ikan demersal atau udang. Harapan saya, yang menangkap udang akan menebar bibit udang, demikian pula untuk pelagis kecil dan tuna” ungkap Dedy.
Upaya lain adalah melakukan penggantian armada tanpa motor dengan kapal > 30 – 60 GT sebanyak 1.000 unit. Kegiatan ini akan dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun, mulai 2001 - 2014. “Saya berharap agar kapal-kapal nasional kita berjaya di sekitar perairan ZEE dan laut-laut internasional, bukan nelayan Thailand, Philipine atau mana saja yang bahkan dapat mengekploitasi kekayaan laut kita. Sangatlah ironis jika lautan kita yang luas dengan potensi yang besar, namun nelayan dan masyarakat pesisir lainnya tetap miskin. Untuk itu,  memang perlu sosialisasi dan program untuk mengubah kultur ”one day trip” mereka” jelas Dirjen Perikanan Tangkap. Lebih lanjut dikatakan, untuk mendukung hal tersebut maka Pendelegasian Perizinan Kapal > 30 - 60 GT akan didorong Ke Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi. Tentunya saja hal tesebut akan sangat membantu dalam operasional dan pelayanan terhadap masyarakat. Dedy juga menjelaskan bahwa nelayan kecil untuk kapal tanpa motor yang tidak berminat terhadap operasional Kapal > 30 - 60 GT juga akan didorong menjadi pembudidaya rumput laut, pengolah ikan serta industri perikanan hilir lain. Selanjutnya dikatakan bahwa untuk mendorong, peningkatan usaha nelayan maka pihaknya akan melakukan penghapusan restribusi.
Saat berkunjung di PPI Donggala, Dirjen Tangkap mengatakan bahwa PPI Donggala dapat dijadikan model pengembangan PPI lain di Sulawesi Tengah. Pihaknya akan mendorong PPI Donggala menjadi kawasan minapolitan. Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada DKP Provinsi Sulawesi Tengah agar segera membuat Wilayah Kerja Operasional Pelabuhan Perikanan (WKOPP) yang dilegalisasi oleh Gubernur. “Saya akan mewmbantu mengembangkan kawasan minapolitan di sekitar PPI Donggala, termasuk kerja sama dengan swasta untuk pengembangan wialyah tersebut”. Pihaknya juga meminta kepada DKP Sulawesi Tengah untuk melakukan identifikasi dalam rangka Pembangunan dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan dalam Outer Ring Fishing Port. Wilayah tersebut diharapkan, dapat menjangkau pulau-pulau terluar dan daerah perbatasan. (SE)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Newsflash
CARGO SPACE MENENTUKAN DAYA SAING KOMODITAS TUNA Oleh Hasanuddin Atjo* IKAN TUNA akan dihargai tinggi bila dikirim dalam keadaan segar dan secara cepat tiba di tempat tujuan.  Semakin cepat  tiba di tempat tujuan, maka semakin cepat pula ikan tersebut mendapat penanganan lanjutan, sehingga mutunya dapat dipertahankan.  Karena itu  peran cargo udara menjadi penting dan ini sekaligus akan membuka peluang bisnis yang menarik bagi pelaku usaha di daerah ini.  Dalam perdagangan,  dikenal  ada empat grade atau tingkatan mutu  tuna yaitu grade A akan dihargai 7 - 10 dollar US;  Grade B dihargai 4 - 7 dollar US; Grade C dihargai  2 - 4 dollar US dan; Grade D dihargai kurang dari 2 dollar US per kilogramnya.   Grade A peruntukannya  dikonsumsi segar utamanya oleh bangsa Jepang yang disebut dengan istilah shusi atau sasimi;  Grade B dan C disajikan di hotel, restoran dalam bentuk bistik atau lainnya,  olahan seperti tuna kaleng, abon dan olahan lainnya serta dijajakan di pasar modern.  Sedangkan Grade D biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional.  Umumnya mutu tuna daerah ini berada  pada  kisaran Grade B, C dan D dengan nilai antara 1 hingga 4 dollar  US per kilogramnya.  Kita berharap bahwa  kedepan mutu tuna di daerah ini dapat ditingkatkan mejadi Grade A dan B, sehingga harga yang akan  diterima oleh nelayan dapat meningkat dari 1 - 4 dollar US  menjadi 7 -  10 dollar US  per kilogram dan sekaligus berdampak terhadap  meningkatnya  devisa  daerah ini.  Details...

RUMAH IKAN DAN INSTRUMEN PEMBERDAYAAN Oleh Hasanuddin Atjo*PERSOALAN  yang dihadapi  negeri ini selain pendapatan masyarakat yang belum terdistribusi secara merata, juga diperhadapkan oleh  tingginya angka kemiskinan dan pengannguran yang tercatat sekitar 13,5 persen pada level Nasional dan sekitar 15 persen level  Sulawesi Tengah.  Berbagai program telah diluncurkan untuk mengeleminir kedua persoalan itu, baik melalui program sektoral/lembaga maupun daerah.  Saking pentingnya persoalan itu, maka telah dilahirkan sebuah regulasi khusus yang dikenal dengan istilah PNPM-Mandiri (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri) di sejumlah sektor atau lembaga. Selain itu  juga ada regulasi lain berupa kewajiban dari BUMN dan swasta untuk memberdayakan masyarakat melalui program CSR (Coorperate Social Responsibility).    Details...

Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tengah

SEA RANCHING DAN FISH HOME, TINGKATKAN KESEJAHTERAAN NELAYAN Kegiatan menarik terjadi Sabtu baru-baru ini (27/8) di Desa Marantale Kecamatan Siniu Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Ratusan nelayan dan penduduk pesisir pantai berkumpul di bawah tenda sederhana¸ memperhatikan ratusan plastik berisi benih Ikan Kerapu Macan berukuran sekitar 5 cm. Di depan tenda terhampar luas perairan Teluk Tomini yang terkenal dengan keindahan dan potensi perikanannya. 2 tahun lalu, lebih kurang 100 m dari pantai itu, telah  terpasang “Rumah Ikan” (Fish Home), yang kini telah ditumbuhi karang. Fish Home sebanyak 25 unit, terpasang pada kedalaman sekitar 15 m. Benih-benih Ikan Kerapu tersebut nantinya akan mereka tebar sendiri di sekitar Rumah Ikan.   Details...

Polls
Bagaimana situs ini menurut anda
 
Who's Online
Visitors Counter
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday30
mod_vvisit_counterYesterday31
mod_vvisit_counterThis week30
mod_vvisit_counterThis month1049
mod_vvisit_counterAll113963
Links
 
Republik Indonesia
 
Propinsi Sulawesi Tengah
 
Dewan Kelautan Indonesia
 
Perpustakaan Departemen Kelautan Indonesia
 
Biro Infokom
 
Kementrian Perikanan dan Kelautan
 
 
Support
 
Info Gempa
 
Hubungi Kami