Home arrow B e r i t a arrow Perikanan Budidaya arrow DIRJEN PERIKANAN BUDIDAYA: “OPTIMALKAN MINAPOLITAN BUDIDAYA”
Main Menu
Home
Berita
Cari
Publikasi
Opini
Agenda Kegiatan
Info Pasar
Kontak Kami
Tentang DKP Sulteng
Sejarah
Visi Misi
Struktur
Tugas dan Fungsi
S e k r e t a r i a t
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang Perikanan Budidaya
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang Perikanan Tangkap
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang Kelautan
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang P 2 H P
T u p o k s i
B e r i t a
UPTD LPPMHP
T u p o k s i
B e r i t a
UPTD Perbenihan Perikanan
T u p o k s i
B e r i t a
UPTD Pelabuhan Perikanan
T u p o k s i
B e r i t a
DIRJEN PERIKANAN BUDIDAYA: “OPTIMALKAN MINAPOLITAN BUDIDAYA” PDF Cetak E-mail
Thursday, 21 June 2012
 “Optimalkan lokasi minapolitan percontohan perikanan budidaya sebagai embrio Kawasan Industrialisasi Perikanan Budidaya”. Demikian dikatakan Slamet Subyakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya - Kementerian Kelautan dan Perikanan RI pada pembukaan Rapat Teknis Perencanaan (Ratekcan) Pembangunan Perikanan Budidaya. Kegiatan yang kali ini diadakan di Bandung, digelar 20 – 23 Juni 2012. Hadir pada kegiatan tersebut antara lain para direktur pada jajaran Ditjen PB, serta Dinas Kelautan dan Perikanan se-Indonesia.
Ketua Panitia Ratekcan 2012, Eki Djouhar Fuad mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk merumuskan kegiatan dan kebutuhan biaya tahun 2013 berdasarkan pagu indikatif yang akan dituangkan dalam RKA-KL, baik satker pusat, dekonsentrasi serta Tugas Pembantuan lingkup Ditjen Perikanan Budidaya secara terarah berbasis usulan daerah dan kebijakan pusat. Luaran penyelenggaraan kegiatan, diharapkan adanya keserasian kegiatan antara satker pusat, UPT Pusat serta daerah, di samping  tersusunnya  RKA-KL satker pusat, dekonsentrasi serta Tugas Pembantuan.
Lebih, Slamet Subyakto dalam paparan arah kebijakan tahun 2013 pembangunan perikanan budidaya nasional yang bertajuk “ Implementasi Industrialisasi Perikanan Budidaya” mengatakan, Indonesia dikenal besar potensinya, namun belum tergarap dengan baik, bagai raksasa yang sedang tidur atau the sleeping giant. Olehnya perlu dilakukan lompatan peningkatan produksi melalui  upaya industrialisasi. Khusus untuk Perikanan Budidaya, akan dilakukan melalui Gerakan Pengembangan Industrialisasi Perikanan Budidaya atau disingkat “GERBANG SI-MINAJAYA”. Tujuannya adalah meningkatkan produksi perikanan budidaya.
Pria yang lebih akrab di panggil Totok ini mencoba membandingkan hasil produksi Ikan Patin antara Indonesia dan Vietnam. Dikatakan, bahwa produktifitas Vietnam berkisar 400 ton/Ha dalam 6 bulan, dibandingkan Indonesia yang baru mencapai 120 ton/Ha dalam waktu yang sama. Walaupun biaya produksi lebih mahal dan harga jual lebih rendah dibanding Indonesia, namun dengan produktifitas yang tinggi, maka hasil patin dari Vietnam dapat bersaing di pasaran internasional. Bila menilik dari “head to head” antara kedua negara, maka teknologi dan manajemen produksi menjadi kunci keberhasilan Vietnam.
Masih menurut Dirjen Perikanan Budidaya, Fokus Kegiatan tahun 2013 adalah Pengembangan Kawasan Minapolitan, Pengembangan Usaha Mina Pedesaan, Pengembangan GENTANADI (Gerakan Mina Padi) serta Solusi Masalah Faktor Produksi. Fokus kegiatan tersebut akan dilakukan melalui tiga kebijakan, yaitu Pengembangan Kawasan, Pengembangan Komoditas dan Pengembangan Usaha. Pengembangan kawasan terutama dilakukan melalui  peningkatan infrastruktur untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing kawasan. Pengembangan Komoditas dilakukan melalui pengembangan broodstock center, pengembangan naupli center dan pengembangan unit pendederan sebagai outlet  center. Pengembangan usaha dilakukan melalui pola unit pelayanan pengembangan, pola kemitraan dan pola swadaya.
Masih menurut Totok, implementasi kebijakan industrialisasi perikanan budidaya nasional dilakukan melalui: (1) pengembangan usaha mina pedesaan-perikanan budidaya, sebagai trigger pengembangan industrialisasi perikanan budidaya; (2) mengoptimalkan lokasi minapolitan percontohan perikanan budidaya, sebagai rintisan model kawasan industrialisasi perikanan budidaya; (3) mendayagunakan lokasi minapolitan percontohan unggulan, sebagai rintisan model kawasan industrialisasi perikanan budidaya; serta (4) mendorong gerakan industrialisasi perikanan budidaya (gerbang si-minajaya) pada daerah-daerah potensial. Komoditas industrialisasi Perikanan Budidaya meliputi Udang, Bandeng, Rumput Laut, Patin  serta komoditas potensial lain. (SE)
 
Berikutnya >