Home arrow Berita arrow Latest arrow BUDIDAYA HEMAT AIR MULAI MARAK DI KOTA PALU
Main Menu
Home
Berita
Cari
Publikasi
Opini
Agenda Kegiatan
Info Pasar
Kontak Kami
Tentang DKP Sulteng
Sejarah
Visi Misi
Struktur
Tugas dan Fungsi
S e k r e t a r i a t
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang Perikanan Budidaya
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang Perikanan Tangkap
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang Kelautan
T u p o k s i
B e r i t a
Bidang P 2 H P
T u p o k s i
B e r i t a
UPTD LPPMHP
T u p o k s i
B e r i t a
UPTD Perbenihan Perikanan
T u p o k s i
B e r i t a
UPTD Pelabuhan Perikanan
T u p o k s i
B e r i t a
BUDIDAYA HEMAT AIR MULAI MARAK DI KOTA PALU PDF Cetak E-mail
Monday, 23 August 2010
 Budidaya ikan air tawar, utamanya teknologi hemat air mulai marak di Kota Palu. Terlihat aktivitas para pembudidaya ikan pada kawasan sekitar Jalan Anoa II, yang memilih komoditas Lele Dumbo (Clarias gariepenus) sebagai sebuah usaha ekonomis. Tak tanggung-tanggung, jika selama ini budidaya ikan dilakukan di kolam luas dengan pengairan yang tidak berhenti, maka yang dilakukan oleh para pembudidaya tersebut adalah menggunakan terpal plastik sebagai pengalas. Usahanya pun dilakukan disamping rumah, pada daerah yang cukup padat penduduk dengan mengandalkan suplai air sumur.
Salah seorang pembudidaya Lele, Ones, mengatakan bahwa usahanya sudah berjalan sekitar 1 tahun. “Awalnya hanya coba-coba, namun ternyata hasilnya lumayan untuk kebutuhan sehari-hari. Dari bibit awal ukuran 3 – 5 cm, sekitar 3 bulan saya sudah bisa panen. Setidaknya, setiap bulan saya mampu panen sekitar 30 kg Ikan Lele yang 1 kg isinya 6-7 ekor” ungkap Sarjana Bahasa Inggris  jebolan FKIP Untad itu.
Saat ditanya mengenai pemasaran, di katakan bahwa permintaan Lele konsumsi semakin hari juga semakin meningkat. “Pertama kali memasarkan memang ada kendala, karena image masyarakat Palu tentang Lele adalah ikan yang biasa ada dicomberan. Namun setelah saya beri penjelasan sembari menunjukkan foto-foto tempat pemeliharaan terpal plastik dan pakan pelet, baru konsumen mulai tertarik ” lanjutnya. Harganya pun cukup lumayan, antara 25.000-30.000/kg tergantung kondisi pasar. Umumnya pembeli Lele adalah para penjual Sari Laut dan masyarakat di sekitar rumah produksi.
Pria blasteran Toraja – Morowali tersebut mengatakan, minat masyarakat untuk mengembangkan usaha budidaya Lele dengan media terpal plastik cukup tinggi. Wadah pemeliharaan yang sederhana, hanya menggunakan terpal dibantu bambu dan Kayu Jawa sebagai kerangka memang mengundang minat untuk mencoba. Berdasarkan pantauan, Ones saat ini baru mempunyai 3 petak terpal ukuran 4 x 3 m dengan ketinggian air sekitar 30 cm. “Saya sedangkan siapkan sisa pekarangan rumah untuk menambah 2 atau 3 petak lagi” jelasnya. Selanjutnya dikatakan, telah ada 5 orang tetangganya yang juga sudah mengusahakan budidaya hemat air. Malah sekarang sudah ada sekitar 15 orang tetangga lagi yang siap memulai usaha budidaya Lele. Dikatakan pula, selain sebagai usaha baru, budidaya ikan juga sebagai hiburan saat senggang.
Ketika disinggung mengenai kendala yang dihadapi, Ones mengatakan bahwa bibit ikan Lele merupakan hal yang paling sulit untuk usaha tersebut. “Selama ini saya dapat benih dari BBIS Tulo, milik Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, namun sering tidak kebagian karena banyaknya permintaan” akunya. Olehnya, pihaknya sangat berharap agar pemerintah dapat membantu penyediaan benih agar usahanya dapat berkembang dengan baik.
Kepala UPTD Perbenihan, Ir. Harry B. Susilo, ditemui ditempat terpisah mengakui bahwa pihaknya kewalahan memenuhi permintaan benih Lele. Namun pihaknya berjanji akan meningkatkan kapasitas produksi benih karena semakin maraknya usaha budidaya Lele kolam terpal plastik. Kepala Bidang Kelautan Distanhutkel Kota Palu, Ir. Heder Yunus, saat dihubungi juga mengatakan bahwa pihaknya sangat merespon berkembangnya usaha budidaya ikan di sekitar perumahan penduduk. “Setidaknya, ini sangat membantu program peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk peningkatan konsumsi makan ikan. Kami sudah programkan peningkatan budidaya hemat air, utamanya komoditas Lele, Nila dan Patin, baik dari dana APBD maupun APBN agar usaha serupa dapat berkembang lebih baik lagi di Kota Palu”ungkapnya. (SE)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >